ketika membuka mata dinihari ini... berharap langsung dapat ide dan konek dengan notebook... sehingga akan mudah saja menulis postingan... ternyata setelah satu jam... aargh.... kemana pula ide itu dinihari ini, nggak muncul-muncul...he...he... dalam situasi pikiran mampet dan sudah dibawa berkhayal ke sana kemari... pikiran jadi beku dan stagnan. mungkin, inilah resiko orang yang “otak udang” yang hanya ber-prossesor masih pentium satu... lebih banyak hang-nya daripada berfungsinya...
pengen menyalahkan diri sendiri yang tak sempurna ini, pengen mencaci maki, mengumpat keadaan hidup yang seperti ini... yang dirasa lebih banyak susahnya dari pada enaknya... diri yang tidak mampu menghadapi situasi dan kondisi yang selalu sulit untuk bersahabat....dan sederet panjang daftar kekesalan lainnya...
disaat frustasi ini memuncak... saya terjerambab ke dalam kubangan stress dan depresi... kesadaran itu muncul... bahwa apapun yang terjadi tidak seharusnya kita menyalahkan diri sendiri, bukan pada tempatnya kita mencaci maki, bukan hal yang tepat kita mengundang stress dan depresi dalam pikiran kita...
masalah dalam hidup tidak akan pernah berhenti datang, terima dengan pikiran tenang dan dada yang lapang... hadapi setiap masalah, selesaikan meski itu sakit dan pahit. kita akan mampu menyelesaikan setiap masalah ketika kita bisa menjadikan masalah tersebut bukan sebagai batu sandungan, tapi terletak pada bagaimana siasat kita mengatasi masalah tersebut dengan baik dan bijak. kita tidak bisa menghindar dari kelemahan, kekurangan dan ketaksempurnaan diri, yang bisa kita lakukan adalah mensiasati masalah, me-manage kelemahan, kekurangan dan ketaksempurnaan diri agar kita tetap bertahan dan terus menapaki jalan hidup ini...
Showing posts with label jalan hidup ini. Show all posts
Showing posts with label jalan hidup ini. Show all posts
January 26, 2012
January 16, 2012
dongeng sebelum tidur : masih prolog
menyambung kembali cerita yang hampir seminggu silam sudah saya posting. dongeng sebelum tidur, sebuah catatan pengantar yang singkat saja. niatnya memang konsisten tapi—alasan—karena jujur, saya terbiasa tidur cepat dan menulis cerita bukanlah hal yang mudah, akhirnya saya tidak bisa menuliskan cerita tersebut setiap malam menjelang tidur. serangan ngantuk ternyata mampu mengalahkan kemampuan saya untuk berpikir dan menulis.
malam ini, alhamdulillah bisa menyambung lagi “dongeng” tersebut meski pendek saja untuk malam ini. masih dalam bagian prolog :
mungkin tampak aneh, hidup dalam ritme seperti itu, namun itulah kenyataannya. bahkan sebenarnya tidak hanya rutinitas itu saja, dibelakangnya ada yang namanya : kungkungan aturan, senioritas, pukulan dan tendangan dan segala tetek bengek lainnya yang berbau militeristis...
mulanya... aku menyesali kenapa aku harus di takdirkan hidup disini, aku merasa bodoh dan semua ini hanya sia-sia. terkadang, aku menggerutu mengapa “takdir” yang mengirimku ke tempat ini, menangisi jalan hidup ini...
hingga kemudian, aku menemukan sebuah kalimat ini, di sebuah majalah kampus :
“beribu tetes air mata yang luruh disini, beribu kesakitan yang tercipta bersama ar mata dalam setiap jengkal tanah ksatrian ini, pikiranmu ternyata tak mampu menangkap makna dan idealisme apa-apa ? sedikitpun ?”
dan membuatku tergerak untuk mencari jawaban : makna dan idealisme apa yang bisa kudapatkan dalam hidupku disini... ?
to be continued....
malam ini, alhamdulillah bisa menyambung lagi “dongeng” tersebut meski pendek saja untuk malam ini. masih dalam bagian prolog :
mungkin tampak aneh, hidup dalam ritme seperti itu, namun itulah kenyataannya. bahkan sebenarnya tidak hanya rutinitas itu saja, dibelakangnya ada yang namanya : kungkungan aturan, senioritas, pukulan dan tendangan dan segala tetek bengek lainnya yang berbau militeristis...
mulanya... aku menyesali kenapa aku harus di takdirkan hidup disini, aku merasa bodoh dan semua ini hanya sia-sia. terkadang, aku menggerutu mengapa “takdir” yang mengirimku ke tempat ini, menangisi jalan hidup ini...
hingga kemudian, aku menemukan sebuah kalimat ini, di sebuah majalah kampus :
“beribu tetes air mata yang luruh disini, beribu kesakitan yang tercipta bersama ar mata dalam setiap jengkal tanah ksatrian ini, pikiranmu ternyata tak mampu menangkap makna dan idealisme apa-apa ? sedikitpun ?”
dan membuatku tergerak untuk mencari jawaban : makna dan idealisme apa yang bisa kudapatkan dalam hidupku disini... ?
to be continued....
Subscribe to:
Posts (Atom)
